Jumat, 25 Desember 2015

Benci

Tuhan,
Bolehkah rinduku kau jawab
Aku tak tahan menagihnya pada manusia, ciptaanMu
Aku sudah tak tahan.

Tuhan,
Ijinkan aku membenci makhlukMu
Walau ku tahu itu sangat tidak terpuji

Tuhan,
Ranting kekokohan cinta ini mulai retak
Ku mohon, kembalikan kekokohan itu.......

Selasa, 22 Desember 2015

Seretan Suara Tak Bertulang

Ramahkah daun yang jatuh dengan sengaja
Dan, silaukah kilatan maaf yang tertutur dalam bayangan senja

Aku bersujud dalam lingkar ketidaksengajaan
Tanpa tahu rencana Tuhan yang begitu memuliakan

Sampai kapan lentikkan dosa yang tak mengekang itu?
Bahkan, kau tahu kertas putih tak lagi suci

Ingatkah rumah yang kosong dan setidakberdayaan suatu hari
Kau kan terikat dalam diam, sengsara, penuh kesengsaraan

Waktu masih terus menjinakkanmu
Sampai ubunmu tak malu tuk memutih
Hingga rautmu rela memudar
Dalam angan manusia demi manusia
Padahal kau telah memanusiakan manusia

Minggu, 20 Desember 2015

Suara yang Tersamar oleh Angin

Tuhan,
Sampaikan padanya
Aku begitu merindukannya
Sampai ku lupa bagaimana caranya pulang dari jalan ku menapaki pendirian

Tuhan,
Sampaikan padanya,
Betapa aku ingin mendengar suaranya
Entah, sedetik pun telah cukup meredam kerinduan yang mulai mengekangku

Tuhan,
Ijinkan aku berada di dekatnya,
Ketika ia melangkah menuju dinding kesetiaan
Ketika ia menggenggam ketidakberdayaan

Tuhan,
Malam ini,
Suaranya entah mengapa tersamar oleh angin
Kalimat yang biasa ia ucap
Entah kini jarang ia tuturkan kembali
Padaku, pada daun yang mulai kering dan siap jatuh ini

Tuhan,
Ku tahu, kau tak ijinkan aku mencintainya melebihi cintaku padaMu
Tapi, sekali ini ku ingin meraih singgahsanaMu
Tuk berharap,
Pertemukan aku dan dia, ketika bertemu denganMu
Pertemukan kami...

Kamis, 17 Desember 2015

Tangan-tangan Terdepan

Tuhan,
Terkadang jejak pun ikhlas terhapus oleh angin,
Bayang tersingkir oleh malam
Dan senyum dibenci oleh hati

Tuhan,
Seringkali kata tak sempurna terangkai dalam baris
Jarak tak terkekang oleh rangka kerinduan
Dan, air mata merangkak jatuh tak berdaya dalam kepingan kenangan

Tuhan,
Manusia kini mengekang luka dan dusta
Apa Kau tak lelah menampung puluhan ribu bahkan lebih
Sumur keluhan yang nista
Terucap syukur
Entah, tersirat kabar mereka yang tak pernah tunduk

Tuhan,
Langit pun tahu
Tak ada tangan di balik layar kebenaran
Kebencian merayap ke rona jiwa riya
Mencabik kemiskinan
Merobek kesakitan
Memeluk neraka kesunyian
Bersama tangan-tangan penggapai kursi terdepan

Selasa, 15 Desember 2015

Happy Fashion Guys !

Hallo Guys !!
Suka tampil beda tapi tetap cantik dan anggun ? :)
Coba deh dengan jaket Korea.
Pengen punya jaket Korea tapi dengan harga murah meriah ?
:D

Yuk kunjungi instagram : rummycan_shop
Atau langsung order saja lewat bbm : 570DE613 a.n Rummycan_shop
Harga mulai dari @100-135 ribu rupiah

Yuk dikunjungi, yuk meramaikan :D ;)

Sepatu

Aku di rak yang sama di hari pertama
Kemudian, aku masih bisa melihatmu selalu berada di sampingku
Pagi bertemu malam, begitu sebaliknya
Aku dan dia tak terpisah

Suatu malam,
Angin tertiup kecang dan gerimis kian berlarian mencari pijakannya di bumi
Entah dari arah mana dia
Tanpa permisi dan kata maaf
Menarik aku dan kau dari rak yang mulai berdebu

"Kenapa kau menangis?" Tanyamu mendekat
"Masihkah kita di rak yang sama nanti?"
Kau diam

Rak cokelat berganti rak biru plastik yang mungil
Awalnya, waktu terasa manis
Sebab, dia gemar berhati-hati

Panas, dingin, lelah dan senang
Kami lewati, tanpa keluh kesah
Kau masih menghargaiku
Masih menyayangiku
Berada di dekatku
Bukti dia turut ambil peran tumbuhnya rasa menghargai dan kasih

Namun,
Suatu sore
Dia seakan murka
Entah apa salam kami
Dia bereriak dan  membiarkan kami terpisah dan jatuh dengan bantingan yang keras

"Kau baik-baik saja?" Katamu dr atas sambil menahan desakan dari yang lain
"Ya" kataku

Semakin hari, tak membaik bagai rintihan yang tiada akhir
"Kau terluka" kataku sedih
"Aku baik" tuturmu

Siang itu, kami tak layak dianggap baru
Kami berdebu dan kusam

"Masihkah kita di rak yang sama" tanyaku padamu
Kau diam

Dia bangun pagi di awal Desember ini
Mendekat ke rak dan mengarahkan dua pasang mata itu kepadaku dan kau

"Yakinlah, kita masih bisa bertemu di rak yang sama" katamu lirih

Dia mengekang lalu berlari menuju arus sungai yang deras
Kami terlempar
Kami terpisah
Lagi, tanpa kata maaf

Rindu

Kala itu,
Rinduku padamu begitu kuat
Sedalam bumi pada lembah terdalamnya
Setulus senyum senja di balik bukit Cenderawasih

Harapku mengekang dalam diam
Janjimu meneriaki kesanggupan hati
Melangkah jatuh, menggapai pun tak sampai
Hampir terlelap

Sadarlah !
Dengarlah !
Aku memilih jalan pintas tuk bertemu di dermaga penantian
Berdoalah !
Secepat kilat menyambar kota Paris
Bersama ombak di lautan Raja Ampat