Aku di rak yang sama di hari pertama
Kemudian, aku masih bisa melihatmu selalu berada di sampingku
Pagi bertemu malam, begitu sebaliknya
Aku dan dia tak terpisah
Suatu malam,
Angin tertiup kecang dan gerimis kian berlarian mencari pijakannya di bumi
Entah dari arah mana dia
Tanpa permisi dan kata maaf
Menarik aku dan kau dari rak yang mulai berdebu
"Kenapa kau menangis?" Tanyamu mendekat
"Masihkah kita di rak yang sama nanti?"
Kau diam
Rak cokelat berganti rak biru plastik yang mungil
Awalnya, waktu terasa manis
Sebab, dia gemar berhati-hati
Panas, dingin, lelah dan senang
Kami lewati, tanpa keluh kesah
Kau masih menghargaiku
Masih menyayangiku
Berada di dekatku
Bukti dia turut ambil peran tumbuhnya rasa menghargai dan kasih
Namun,
Suatu sore
Dia seakan murka
Entah apa salam kami
Dia bereriak dan membiarkan kami terpisah dan jatuh dengan bantingan yang keras
"Kau baik-baik saja?" Katamu dr atas sambil menahan desakan dari yang lain
"Ya" kataku
Semakin hari, tak membaik bagai rintihan yang tiada akhir
"Kau terluka" kataku sedih
"Aku baik" tuturmu
Siang itu, kami tak layak dianggap baru
Kami berdebu dan kusam
"Masihkah kita di rak yang sama" tanyaku padamu
Kau diam
Dia bangun pagi di awal Desember ini
Mendekat ke rak dan mengarahkan dua pasang mata itu kepadaku dan kau
"Yakinlah, kita masih bisa bertemu di rak yang sama" katamu lirih
Dia mengekang lalu berlari menuju arus sungai yang deras
Kami terlempar
Kami terpisah
Lagi, tanpa kata maaf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar